Jumat, 30 Desember 2011

Fatwa Ulama tentang Ucapan Selamat Tahun Baru


Sering kita mendengar ucapan selamat tahun baru, tapi  apakah kita tahu bagaimana hukumnya mengucapkan selamat tahun baru kepada orang lain ? seperti contohnya :

Pertama :
selamat tahun baru 
mari kita ramaikan dengan berpesta pada malam ini
sampai pagi kita bersenang-senang
ayo kaawan........

Kedua
Met tahun baru 
Semoga iman selalu nambah
amal selalu istiqomah
rizki dan umur selalu berkah
do'a selalu mustajabah
semua yang kita miliki selalu manfa'at li i'la'i kalimatiLlah
amien............

Di bawah ini saya mengutip dari kutipan Voiceofal-islam tentang beberapa fatwa ulama besar dalam seputar tahun baru. mesti kutipan semoga bermanfaat bagi pembaca yang budiman, ........

1. Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:
Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?

Syaikh Bin Baz menjawab sbb:
Ucapan  selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.

2. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan 1:

Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:
Syaikh yang mulia, apa hukum mengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orang yang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?

Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.
Tetapi ingat, jangan kamu memulainya karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 di akhir tahun 1417 H).

Pertanyaan 2:

Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya: Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?

Maka Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Aku  berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikan ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru dengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.
(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).

Pertanyaan 3:

Pada kesempatan lainnya, beliau juga pernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?

Maka beliau menjawab: Ucapan selamat atas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para Salafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengah manusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudah memahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.

Pertanyaan 4:
Pertanyaan lainnya kepada Syaikh Utsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?

Beliau menjawab: yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.

Pertanyaan 5:

Syaikh Utsaimin ditanya: Apakah diucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”

Beliau menjawab: Tidak, "setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan" tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.
(Disampaikan pada pertemuan terbuka ke-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).

3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzanhafizhahullah

Beliau pernah ditanya: Syaikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapan selamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah, misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?

Syaikh menjawab sbb:

”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyah adalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untuk penanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabat menjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja”.

4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir

Doa kepada sesama muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapan selamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib. Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.

KESIMPULAN:

1. Dari beberapa fatwa di atas dapat dipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.

2. Sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisa terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzanhafizhahullah.

3. Kita tidak disyariatkan untuk merayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyahWallahu a’lam bis-shawab. 


Rabu, 28 Desember 2011


Tujuh Golongan Yang Dinaungi Allah SWT di Hari Kiamat

   

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.                 (صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Tujuh Golongan yg dinaungi Allah dihari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yg diizinkan Nya swt, Pemimpin yg Adil, dan pemuda yg tumbuh dengan beribadah pd Tuhannya, dan orang yg mencintai masjid masjid, dan dua orang yg saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yg diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata : Aku Takut pd Allah, dan pria yg sedekah dg sembunyi2, dan orang yg ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (Shahih Bukhari)

Senin, 19 Desember 2011










Pasti kita sangat familier dangan symbol ini ‘@’, yang hampir setiap hari kita gunakan, terutama bila kita sering surat menyurat menggunakan email. Kita membacanya dengan ‘at’ tapi ternyata banyak kata untuk menyebut bentuk a yang lucu tersebut. Seperti orang Belanda menyebutnya dengan ‘apestaart’ yang berarti ekor monyet, orang Denmark menyebut ‘snabel’ artinya belalai gajah. Orang-orang Jerman menjuluki symbol ‘@’ dengan ‘klammeraffe’ yang berarti monyet yang menggantung dan orang Hungaria menyebut ‘kukac’ yang artinya cacing. Orang Korea menamai simbol itu dengan ‘dalphaengi’ alias keong, orang Norwegia menyebut ‘grishale’ alias ekor babi, yang aneh adalah orang Rusia menyebutnya sebagai anjing kecil alias ‘sobachka’. Dahulu sebelum menjadi penggunaan standard pada alamat email, symbol @ biasa digunakan untuk mengindikasikan harga atau berat sesuatu benda. Sebagai contoh, jika kita membeli 5 buah jeruk dengan harga masing-masingnya adalah Rp 5.000, maka kita menuliskannya dengan 5 jeruk @ Rp. 5.000. Sementara mengenai asal usul symbol tersebut tidak banyak yang tahu secara pasti. Ada yang menyebut symbol itu digunakan oleh para biksu untuk membuat salinan buku saat mesin cetak belum ditemukan. Karena harus menulis semua buku dengan tulisan tangan maka mereka banyak menggunakan singkatan-singkatan untuk mempercepat pekerjaan, di antaranya adalah kata ‘at’ dituliskan menjadi @. Walau sepertinya tidak terlalu banyak membuat perbedaan tapi mungkin juga sebab seluruh hidup mereka dihabiskan untuk membuat salinan naskah. Ada juga yang mengisahkan bahwa asal simbol @ digunakan sebagai singkatan untuk kata ‘amphora’, yang merupakan unit pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah yang dapat dimuat oleh guci terra cotta besar yang digunakan untuk mengisi anggur maupun gandum. Giorgio Stabile, seorang sarjana Italia, menemukan penggunaan simbol @ dalam sebuah surat yang ditulis pada tahun 1536 oleh seorang pedagang Fiorentina bernama Francesco Lapi. Nampaknya itu yang menjadi alas an mengapa symbol @ kemudian menjadi identik dengan hal-hal yang berkaitan dengan jumlah sesuatu. (BKT)

Senin, 28 November 2011

GOLONGAN ORANG SHOLAT

Shalat adalah bentuk ketaatan kepada Allah
Sholat berjamaahAllah SWT memberikan konsep ideal kepada umat Islam agar supaya kita ini menjadi muslim dan mukmin yang sejati. Salah satu cara untuk meningkatkan derajat ketaqwaan kita kepada Allah SWT ialah senantiasa istiqomah menjalankan dan menunaikan ibadah sholat 5 waktu dan kemudian memperbanyak sholat-sholat sunnah.
Ibadah sholat merupakan bentuk ketaatan dan penyerahan diri kita sebagai hamba di hadapan Allah SWT. “Inna sholaatii wa nusuki wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil a’aalamiin – Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah seru sekalian alam“. Rasulullah SAW di dalam hadits beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya sholat merupakan tiang bangunan dalam agama, beliau menegaskan untuk membedakan mana seorang muslim dan seorang kafir dapat tercermin dalam bentuk perbuatan sholat. Maka jika kita menjumpai seorang yang mengaku muslim tetapi tidak melaksanakan sholat, orang tersebut belum menjadi muslim yang sempurna.
Menurut kualitas dalam menjalankan ibadah sholat, umat islam terbagi menjadi :
Golongan pertama umat Islam yang selalu taat dalam menjalankan ibadah sholat. Umat Islam yang mengerti betul apa syarat dan rukun kemudian menjalankan  adab-adab sholat.
Golongan pertama ini termasuk mendapatkan kekhususan dalam melaksanakan sholat. Di dalam Al qur’an surat Al Mu’minuun ayat 1-2 yang artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya“. Kondisi umat Islam yang senantiasa melaksanakan sholat tercapai pada niat melaksanakan sholatnya secara khusus.
Golongan keduaumat Islam senantiasa melaksanakan sholat namun kurang memperdulikan kesempurnaan sholat, kurang paham dan kurang mengerti tentang rukun dan syarat sahnya sholat. Apabila seseorang masuk dalam golongan kedua ini, ia merasa sempurna dalam melaksanakan sholat terkait dari pada rangkaian yang dimulai dari niat hingga salam, tetapi kurang memperhatikan bagaimana kesempurnaan rukun dan sahnya sholat, ketika dilaksanakan.
Rasulullah SAW telah menegaskan pada kondisi seperti ini beliau menyampaikan “akan datang suatu masa dimana manusia banyak sekali melaksanakan sholat, tetapi tidak dianggap melaksanakan sholat“. Banyak umat Islam mengerjakan sholat, karena pengaruh dari pada kondisi ketika ia belajar sholat disaat masih kecil. Tercermin bahwa tidak ada peningkatan dari pada kualitas kesempurnaan di dalam melaksanakan sholat, artinya pada kondisi yang ketika ini, betul-betul seseorang selalu melaksanakan sholat tetapi tidak pernah mengerti rukun dan maknanya, tidak paham makna yang diucapkan dan rangkaian yang dilakukan dalam ibadah sholat.
Allah SWT telah berfirman surat Al Maa’uun ayat 4-5 yang artinya, “Maka ditempatkan di neraka orang-orang yang selalu melaksanakan sholat tetapi mereka selalu lalai dalam sholat“. Mereka melaksanakan sholat tetapi tidak mengerti apa yang dilakukan dalam pelaksanaan sholatnya.
Faktor dan Penyebab tidak sholat
Berdasarkan kuantitas dalam menjalankan ibadah sholat, secara garis besar dapat digolongkan menjadi :
Golongan pertamaumat Islam selalu melaksanakan ibadah shalat.
Golongan kedua, yaitu umat Islam yang sama sekali tidak pernah melaksanakan ibadah shalat. ia mengakui sebagai seorang muslim tetapi terang-terangan dia tidak pernah melaksanakan sholat, hal ini sama saja dengan ia menanggalkan identitasnya sebagai seorang muslim.
Untuk golongan kedua ini ada beberapa penyebab atau faktor yang menyebabkan seseorang meninggalkan dan tidak melakukan shalat:
  1. Orang tersebut salah menyangka dan salah menempatkan tentang shalat, ia meyakinkan bahwa shalat bertujuan untuk berubah seseorang menjadi lebih kaya secara materi. Maka pada akhirnya ketika kekayaan yang sudah dimiliki dan ketika ilmu pengetahuan dia menjadi orang yang hebat dan intelektual, dia meyakini tidak perlu lagi saya melaksanakan shalat, karena saya sudah pintar dan kaya.
  2. Orang yang tidak memiliki pengertian yang benar tentang shalat. Penyebab yang kedua ini, dia menyakini bahwa ketika dia tidak mengerti tentang shalat maka dia tidak pernah merasa berdosa jika meninggalkan shalat. Dia hidup dalam keluarga yang tidak dihiasi dengan shalat, padahal Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita bahwa “hiasilah dan terangilah rumah kita dengan shalat dan membaca Al qur’an“.
  3. Terkalahkan dengan rasa malas yang ada di dalam dirinya. Faktor ketiga ini sebetulnya mengetahui bahwa shalat adalah wajib hukumnya, tetapi karena terbiasa meninggalkan dan mengikuti kemalasannya maka terbiasalah dia meninggalkan shalat dan pada akhirnya sama dia meyakini bahwa saya tidak melakukan shalat tidak apa-apa.
  4. Sesorang yang meninggalkan dan tidak pernah mau melaksanakan shalat karena gangguan jiwa, seseorang yang mengalami kesedihan yang sangat mendalam, seseorang yang mengalami kesulitan yang sangat meningkat dan seseorang yang dalam situasi keputusaasaan akhirnya ia meninggalkan shalat, padahal disaat seperti itulah shalat menjadi solusi dan disaat itulah shalat akan mendatangkan ketenangan.
Golongan kedua umat Islam yang masuk dalam kategori dia mengaku umat Islam tetapi tidak pernah mau melakukan shalat.
Golongan yang ketiga adalah umat Islam kadang-kadang shalat dan kadang-kadang tidak. Golongan yang ketiga ini selalu saja membuat seribu macam alasan, karena kondisi pekerjaan yang padat, karena kondisi pada saat pesta dia sengaja meninggalkan shalat, oleh karena itu sebagaian yang masuk dalam kategori ini selalu saja muncul sebuah keyakinan yang buruk, bahwa shalat ketika dia akan bertujuan untuk menginginkan suatu ketentangan, dia bertujuan untuk meraih kesenangan, ketika ia sudah senang, maka ditinggalkanlah shalat, tetapi jika ia diuji dalam kesulitan dari Allah maka ingatlah ia segera untuk melaksanakan shalat dengan seyakin-yakinnya.
Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahwa apa yang menyebabkan manusia meninggalkan shalat, seseorang ketika ia sedang meninggalkan shalat maka ada keterkaitan yaitu amaliah tidak diterima oleh Allah SWT, ketika orang dengan sengaja meninggalkan shalat maka amal-amal apapun ditolak oleh Allah SWT.
Shalat merupakan tiang bangunan agama dan sangat mustahil kita membuat bangunan tetapi tanpa tiang. Dalam hadits lainpun Rasul menyampaikan bahwa “yang pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah amalan shalat, jika amalan shalat ini diterima maka selurah amalan yang lain juga diterima oleh Allah SWT, sebaliknya jika amalan shalat ditolak atau tidak diterima oleh Allah SWT dan amalan yang lain pun ditolak“.
Bersumber dari Nafi, sesungguhnya Umar Ibn Al Khatab ra, mengirim pesan kepada para gubenurnya: “menurutku, urusan kalian yang paling penting ialah shalat. Siapa yang selalu menjaga dan memeliharanya berarti dia telah memelihara agamanya. Dan siapa yang mengabaikannya maka urusan yang lainnya pasti akan lebih dia abaikan“.
Bersumber dari Abul Mulaih, dia berkata : “Aku pernah mendengar Umar Ibn Al Khatab ra, mengatakan di atas mimbar, Tidak ada istilah Islam bagi orang yang tidak shalat“. Maka dalam keadaan dan situasi apapun bahwa kewajiban kita menjalankan perintah Allah SWT, khususnya dalam ibadah shalat, mudah-
mudahan kita ini menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa istiqomah dalam memelihara shalat dan mudah-mudahan senantiasa diterima oleh Allah 

Pisang, Menjaga Rambut Tetap Lembut

image
PISANG yang memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi dan kaya akan mineral, tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Buah berkulit kuning ini juga baik untuk kesehatan rambut.
Pisang dapat berfungsi sebagai kondisioner yang bekerja melembabkan kulit kepala dan mengendalikan ketombe. Gunakan kondisioner ini seminggu sekali, untuk menjaga rambut tetap lembut dan mudah diatur.
Tak perlu menikmati spa rambut dengan kondisioner dari bahan buah pisang ini di salon-salon terkenal langganan, karena Anda bisa meramunya sendiri di rumah.
Sediakan 2 buah pisang, 1/4 buah melon, setengah cangkir madu, i sdm minyak zaitun dan 1 sdm plain yogurt. Masukkan semua bahan tersebut ke dalam mixer lalu aduk hingga lembut dan berwarna kecoklatan.
Gunakan kondisioner dari campuran bahan alami ini pada rambut yang masih basah. Balurkan dari akar hingga ujung rambut. Diamkan selama 30 menit lalu bilas dengan air dingin.

Jumat, 25 November 2011

LIKE An ANT


melihat semut saya melihat  kerukunan yang hebat antara mereka. tidak seperti manusia, semut terlihat lebih harmonis dalam kehidupannya dengan teman-teman atau masyarakat semut yang lain, ketika mereka mengumpulkan makanan mereka saling bahu membahu, ketika saling berpapasan dengan yang lain, mereka terlihat seperti bersalaman/berinteraksi dengan baik. alangkah indahnya jika kita sebagai manusia mau meniru kegiatan semut yang positif tersebut. saling sapa ketika bertemu, saling membantu dalam berbagai bidang. sayangnya sekarang manusia sudah jauh dari demikian... mereka bersikap individual allias elu-elu gue-gue.. dan sekarang, semakin maju teknologi mereka semakin kurang berinteraksi dengan sesama. dan yang paling membuat kita jadi terkucilkan adalah karena ketika kita bisa menguasai internet kita lebih sewring duduk-duduk di depan komputer malahan kadang sampai berjam-jam kita terpaku oleh layar komputer... agama juga kadang di anggap hanya sebagai ritual... selesai beribadah bukannya kita megucapkan do'a kepada tuhan, kita malah langsung nongkrongin lagi komputer... MUDAH-MUDAHAN ANDA TIDAK DEMIKIAN... AMIEN.....